Kebijakan Strategis Pembangunan Ruang Wilayah Nasional

I. PENDAHULUAN
Ekonomi Indonesia sekarang ini sedang mengalami titik balik. Sejak terjadinya krisis ekonomi pada akhir tahun 1990an, datangnya era persaingan bebas, dan dengan semakin bertambahnya penduduk, pertumbuhan ekonomi menurun tajam, dan Indonesia sempat termasuk negara berpendapatan rendah. Namun sejak beberapa tahun terakhir ini perekonomian negara sudah mendekati keadaan sewaktu krisis. Kecenderungan ini akan berdampak pada wujud tata ruang Indonesia di masa yang akan datang.

II. PERUBAHAN YANG BERIMPLIKASI PADA TATA RUANG
Wujud tata ruang negara Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perubahan-perubahan yang terjadi di dalam negeri. Dunia yang sedang menghadapi perubahan-perubahan besar, secara langsung juga akan berpengaruh pada kehidupan manusia dan ruang hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut antara lain:
Globalisasi semakin meluas, sebagai dampaknya, terjadi persaingan yang semakin keras antar negara, baik antara sesama negara maju, sesama negara berkembang maupun antara negara maju dengan negara berkembang.
Persoalan lingkungan yang harus ditangani secara global telah muncul dan akan semakin berat. Selain itu, dunia akan mengalami kekurangan energi, makanan dan sumberdaya alam lainnya seiring dengan berjalannya waktu.
Jumlah manusia bertambah. Berbagai faktor akan menyebabkan penduduk dunia bertambah dengan pesat, yang khusus Indonesia saja akan menjadi 250 juta orang dalam waktu beberapa tahun saja ke depan.
Penduduk Indonesia dan kegiatannya sebagian besar saat ini terkonsentrasi di Pulau Jawa, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelebihan penduduk dan konsentrasi yang tinggi dalam satu wilayah. Penumpukan aktivitas ekonomi sangat jelas terjadi di Jabodetabek, dan beberapa wilayah lain seperti Surabaya dan sekitarnya (dsk), Bandung dsk, Medan dsk, Makassar dsk.[1] Secara keseluruhan terlihat adanya polarisasi kegiatan ekonomi, yaitu Jakarta dsk. sebagai satu kutub besar, dan beberapa kutub sedang serta ratusan kutub-kutub kecil.
Pengamatan terhadap konfigurasi kegiatan ekonomi tersebut menyimpulkan perlunya merubah struktur yang berupa kutub tunggal tersebut ke dalam suatu struktur yang multikutub yang masing-masing berdiri sendiri namun terkait satu sama lain.

III. TUJUAN STRATEGIS JANGKA PANJANG
Tujuan-tujuan dasar yang perlu dicapai mengenai wujud tata ruang Indonesia di masa depan adalah:
A. Membangun kembali struktur ekonomi dan membangun kegiatan bisnis yang menciptakan lingkungan yang menarik dan mendorong tumbuhnya kreativitas berusaha. Tujuan ini dimaksudkan untuk mengangkat perekonomian nasional yang sejak akhir tahun 1990an mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi. Struktur perekonomian nasional perlu diupayakan lebih matang dengan pangsa sektor jasa yang lebih tinggi daripada sektor pertanian, karena akan memberikan nilai tambah yang lebih banyak per tenaga kerja. Ini tidak berarti ada pengabaian teradap sektor pertanian, bahkan sebaliknya sektor pertanian harus mendukung suplai pangan penduduk Indonesia yang jumlahnya akan lebih dari setengah miliar orang pada beberapa puluh tahun ke depan.
B. Memungkinkan seluruh bangsa Indonesia untuk berhubungan langsung dengan bangsa-bangsa lain. Tujuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan jangkauan kegiatan ekonomi dan sosial budaya bangsa Indonesia. Diharapkan dengan kemudahan melakukan hubungan langsung dengan luar negeri dalam waktu cepat dan biaya terjangkau maka pertumbuhan ekonomi akan lebih pesat lagi.[2]
C. Menjadikan Indonesia sebagai tempat yang aman untuk tinggal dan terlindung dari bencana alam. Tujuan ini dimaksudkan untuk membuat penduduk Indonesia menempati permukiman yang terbebas dari ancaman bencana alam seperti gempa bumi, longsor dan banjir. Selain itu, penduduk Indonesia juga harus dibebaskan dari bahaya terjadinya konflik sosial, seperti yang pernah terjadi di berbagai daerah beberapa tahun yang lalu.[3]
D. Menciptakan daerah-daerah yang berdiri sendiri yang dapat mewujudkan tujuan-tujuan hidup penduduk. Tujuan ini dimaksudkan untuk menciptakan wilayah-wilayah yang mandiri dalam arti kesempatan kerja dan kebutuhan pokok penduduk dapat dipenuhi dari dalam atau di sekitar wilayah tempat tinggalnya, sehingga tidak harus melakukan perjalanan yang jauh. Permukiman yang terlalu besar akan membutuhkan prasarana dan sarana yang besar yang harus disediakan denga biaya yang besar.[4]
E. Membangun kembali kesadaran berlingkungan hidup untuk mencapai kelestarian alam yang dapat bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Tujuan ini dimaksudkan untuk menjaga lingkungan hidup yang ada sebaik-baiknya sehingga dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang dalam keadaan tetap baik, sehingga dapat mengambil manfaat yang sama bahkan lebih daripada apa yang sekarang ini dimanfaatkan oleh generasi saat ini.

IV. KEBIJAKAN STRATEGIS UNTUK MENCAPAI TUJUAN
Untuk mewujudkan tujuan-tujuan jangka panjang di atas, maka perlu dirumuskan kebijakan strategis dalam bidang penataan ruang wilayah nasional sebagai berikut.
1. Membangun Permukiman yang Produktif
Setiap kesatuan wilayah, besar dan kecil, kota dan desa, di darat dan laut, memiliki kekayaan alam yang unik dan oleh sebab itu perlu dijadikan tempat berproduksi dengan mengolah sumber-sumber daya alam itu secara berkelanjutan, berkeadilan dan bertanggung jawab. Wilayah-wilayah tersebut perlu menjadi wilayah yang mandiri dengan fasilitas yang lengkap, dalam suatu lingkungan yang asri dan nyaman.
2. Menata Ulang Wilayah Metropolitan
Wilayah metropolitan, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang dan Makasar, dsb. semuanya sudah/akan menjadi wilayah yang terlalu padat. Oleh karena itu wilayah-wilayah metropolitan itu perlu ditata ulang dan dipulihkan fungsinya pada tingkat dimana segala sesuatunya dapat berjalan secara efisien.
3. Menciptakan Keterkaitan Wilayah Secara Global
Keterkaitan wilayah secara global perlu diperkuat sehingga dapat membuat setiap wilayah di Indonesia dapat berinteraksi dengan wilayah-wilayah lain di seluruh dunia dengan cepat. Setiap wilayah perlu mendayagunakan potensi dan karakteristik yang dimilikinya dan tidak harus tergantung pada Jakarta. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut maka setiap wilayah harus memiliki prasarana komunikasi berjangkauan global.[5]
4. Membangun Suatu Tata Ruang Nasional yang Ramah Lingkungan
Untuk dapat mewariskan suatu lingkungan yang asri penuh sumberdaya dan terlanjutkan, kebijakan yang perlu dilaksanakan adalah mengamankan kawasan-kawasan alami, membuat jaringan antar wilayah untuk membuka wilayah-wilayah terpencil, mendorong agar lingkungan alam yang ada dihargai dan dilindungi dengan menganjurkan masyarakat untuk tidak memboroskan pemanfaatan sumber daya alam dan energi, dan mempraktekkan cara hidup yang lebih harmonis dengan siklus alam.

V. KESIMPULAN
Wujud tata ruang Indonesia selain ditentukan oleh perubahan-perubahan di dalam negeri juga dari luar negeri, antara lain globalisasi yang menyebabkan persaingan yang semakin keras antar negara, persoalan-persoalan lingkungan dan kekurangan energi, makanan dan sumberdaya alam lainnya, jumlah manusia bertambah. Akibatnya adalah adanya polarisasi kegiatan ekonomi, yaitu Jakarta dsk. sebagai satu kutub besar, dan beberapa kutub sedang serta ratusan kutub kecil. Struktur kutub tunggal tersebut perlu diubah menjadi struktur multikutub yang terkait satu sama lain.
Tujuan dasar utama membentuk tata ruang Indonesia di masa depan adalah membangun kembali struktur ekonomi dan membangun kegiatan bisnis yang menciptakan lingkungan yang menarik dan mendorong tumbuhnya kreativitas berusaha. Tujuan ini untuk mengangkat perekonomian nasional yang sejak akhir tahun 1990an mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi.
Untuk mewujudkan tujuan jangka panjang di atas perlu dilakukan kebijakan membangun permukiman yang produktif, menata ulang wilayah metropolitan, menciptakan keterkaitan wilayah secara global, membangun suatu tata ruang nasional yang ramah lingkungan.
–o0o–

DAFTAR PUSTAKA
Budhy Tjahjati Sugijanto Soegijoko et.al (eds); Bunga Rampai Pembangunan Kota Indonesia Dalam Abad 21, 2005
Departemen Pekerjaan Umum, Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KSNP-Kota), 2005
Gilbert, Alan dan Gugler, Josef; Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga, 1996
Pradhan, Pushkar K; Manual for Urban Rural Linkage and Ruiral Development Analysis, 2003
Thomas, Vinod et.al.; The Quality of Growth, 2000
Winarso, Haryo dan Kombaitan, B.; Public Intervention in the Formal Housing Market in Indonesia: Who Gets the Benefits?, Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 15, No. 2, Juli 2004
Winarso, Haryo e.al (eds); Pemikiran dan Praktek Perencanaan dalam Era Transformasi di Indonesia, 2002
Yamazawa, Ippei and Amakawa, Naoko; Development Strategies Toward the 21st Century, 2002

[1] Dalam skala yang lebih kecil konsentrasi kegiatan ekonomi terjadi di Manado dsk, Palembang dsk, Balikpapan dsk, dan di beberapa wilayah lagi.
[2] Hal yang sama diharapkan terjadi dalam aspek perkembangan teknologi, sosial dan budaya.
[3] Antara lain di Poso, Maluku, dan dalam skala lebih kecil di beberapa perdesaan di Jawa.
[4] Daripada digunakan untuk membiayai prasarana/sarana skala besar tersebut, penghasilan masyarakat sebenarnya dapat digunakan untuk menikmati kehidupan yang lebih berkualitas.
[5] Seperti pusat kegiatan bisnis, sarana konvensi, jaringan transportasi dan telekomunikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: