Pengembangan Kawasan Andalan Untuk Pengembangan Ekonomi Daerah

I. PENDAHULUAN
Tujuan mengembangkan ekonomi daerah adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di daerah ybs. Mencapai kualitas kehidupan yang tinggi adalah dengan mewujudkan tingkat produktivitas yang tinggi yang terus meningkat di seluruh bidang ekonomi. Suatu daerah yang produktif dapat membayar upah yang tinggi kepada pekerjanya; sebaliknya suatu daerah yang tidak produktif hanya dapat memberikan upah yang rendah. Daerah yang produktif menghasilkan keuntungan yang tinggi pada modal yang diinvestasikan dalam aktivitas bisnis di daerah itu; sebaliknya daerah yang tidak produktif hanya memberikan keuntungan yang rendah kepada investor di daerah itu. Cara untuk membangun kemakmuran dalam suatu daerah adalah meningkatkan produktivitas.

II. KONSEPSI PENGEMBANGAN EKONOMI DAERAH
Dalam ekonomi global yang modern, produktivitas lebih dari fungsi efisiensi dalam memproduksi barang-barang yang sama. Ia juga bertalian dengan nilai produk yang dihasilkan daerah itu. Ketika suatu daerah menjadi lebih maju, ia harus menemukan jalan untuk menaikkan nilai produknya, dengan nilai yang bersedia dibayar pembeli. Para pembeli akan membayar lebih hanya jika suatu produk lebih berkualitas, mempunyai ciri yang lebih baik, ditawarkan bersama dengan jasa penunjang yang lebih lengkap, membawa merek yang dikenal handal. Pertumbuhan produktivitas ditentukan oleh fungsi peningkatan nilai dan efisiensi produksi yang terjadi.
Mencapai nilai lebih tinggi tidak mengharuskan suatu daerah untuk menghasilkan produk industri canggih. Suatu daerah dapat produktif dan makmur dalam hampir semua bidang. Yang penting adalah bagaimana daerah itu bersaing, bukan dalam industri apa ia bersaing. Suatu daerah dapat menjadi makmur dalam pariwisata jika daerah itu dapat menaikkan rata-rata belanja per wisatawan manca-negara dengan menawarkan hal-hal yang lebih baik: fasilitas penginapan lebih membetahkan, pelayanan transportasi lebih lancar, atraksi lebih menarik, atau keramahan yang lebih mengesankan.

a. Tantangan Daerah
Untuk membangun suatu daerah yang makmur, pemikiran bahwa industri tradisional adalah tertinggal dan bahwa daerah itu harus membangun industri berat harus ditanggalkan. Sebaliknya, fokus pengembangan ekonomi daerah harus pada basis kemakmuran yang sebenarnya, yang menjadi daya produksi daerah itu. Jika suatu daerah dapat mendorong produktivitas melalui peningkatan keterampilan dan teknologi, maka kemakmuran akan meningkat. Pada sisi lain, jika ada halangan dalam meningkatkan produktivitas, maka ekonomi daerah itu akan stagnan atau mundur.
Suatu daerah dapat tergolong sebagai daerah berkembang, yang perlu mencapai kemakmuran yang lebih tinggi untuk mengejar ketertinggalannya dari daerah-daerah maju dan tidak dikejar oleh daerah-daerah berkembang lainnya. Daerah-daerah berkembang akan terus meniru produk yang dihasilkan atau menggunakan upah yang lebih rendah untuk menyaingi produk daerah itu. Daerah-daerah berkembang lain juga dapat terus memperbaiki infrastrukturnya, dan mendidik masyarakatnya agar mempunyai keterampilan yang semakin baik.[1] Tantangan yang dihadapi oleh setiap daerah oleh sebab itu sangatlah besar.
Satu-satunya cara untuk menang dalam kompetisi sengit seperti ini adalah dengan menghasilkan produk dan jasa yang daerah-daerah lain tidak dapat menghasilkannya. Pertumbuhan kemakmuran tergantung pada kapasitas untuk menginovasi, untuk menghasilkan nilai produk yang lebih tinggi dan semakin tinggi, yang daerah lain tidak dapat menghasilkan atau baru menghasilkan setelah beberapa tahun kemudian. Untuk mendukung struktur upah yang meningkat terus maka daerah harus menetapkan target yang bergerak, menerapkan tingkat teknologi untuk mengembangkan proses produksi dan produk uniknya secara lebih baik dan terus lebih baik. Jika suatu daerah gagal untuk mengembangkan kapasitas untuk lebih produktif, maka daerah itu dengan cepat akan takluk kepada tekanan kekuatan pasar.

b. Strategi Pengembangan Ekonomi Daerah
Menurut Porter ada dua strategi pengembangan ekonomi daeah: strategi makro dan strategi mikro. Strategi pertama adalah dengan mewujudkan suatu lingkungan ekonomi makro dan politik yang stabil, serta hukum yang mantap dan adil; tidak hanya pada lingkup nasional namun juga daerah. Daerah-daerah masih harus melewati banyak ujian dalam proses ini. Pemerintah daerah perlu menunjukkan lingkungan ekonomi makro yang kondusif. Namun, kebijakan ekonomi makro tidak menciptakan kekayaan. Ia membuat lebih mudah atau lebih mungkin bagi perusahaan untuk mewujudkan kekayaan, tetapi kemakmuran tidak akan meningkat kecuali jika dasar ekonomi mikronya mantap dan semakin mantap. Strategi kedua adalah menciptakan fondasi ekonomi mikro.
Suatu ekonomi yang maju berakar dalam kapasitas perusahaan daerah. Ekonomi suatu daerah tidak dapat menjadi produktif kecuali jika perusahaan besar maupun kecil yang beroperasi di daerah itu adalah produktif. Ini berlaku tidak hanya pada perusahaan pengekspor saja tetapi kepada perusahaan berorientasi lokal. Perusahaan yang tidak efisien akan mengganggu industri lain yang tergantung padanya. Inti dari setiap kemakmuran daerah adalah efisiensi dan kecanggihan operasi perusahaan-perusahaan di daerah itu.
Dalam hal lingkungan bisnis ekonomi mikro, ada empat dimensi yang penting. Pertama adalah input yang diperlukan perusahaan, seperti sumber daya manusia, infrastruktur fisik, infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi, modal, informasi komersial, hukum dan peraturan administratif. Ini adalah input yang penting sekali yang setiap perusahaan harus menghadapinya setiap hari untuk menciptakan nilai tambah. Agar suatu daerah menjadi lebih produktif, maka kualitas, kecanggihan, dan pada akhirnya, spesialisasi dari input ini harus meningkat. Daerah harus meningkatkan rata-rata kualitas sumber daya manusianya, kualitas basis ilmiahnya, dan seterusnya.
Aspek lingkungan bisnis ekonomi mikro yang kedua adalah iklim kompetisi yang fair. Suatu ekonomi agar produktif membutuhkan suatu iklim dan insentif yang dapat menstimulasi investasi yang agresif. Pada awalnya investasi itu akan berkaitan dengan “asset keras”; namun untuk mencapai status daerah yang lebih maju, harus ada iklim di mana perusahaan akan menanam modal dalam “asset lunak” seperti pelatihan, teknologi R&D, pembuatan merek, dan jaringan pemasaran internasional. Berhubungan erat dengan ini, suatu daerah produktif adalah di mana ada kompetisi internal. Suatu perusahaan tidak dapat mungkin mampu bersaing di luar negeri kecuali jika ia berhasil untuk bersaing di dalam negeri. Karena kesuksesan tergantung pada inovasi, maka tekanan kompetisi lokal adalah fundamental dalam membuat kemajuan.[2]
Ketiga, suatu daerah yang berkembang memerlukan konsumen yang penuntut. Setiap daerah harus menciptakan suatu lingkungan di mana baik konsumen rumah tangga maupun konsumen bisnis mengharapkan yang terbaik dari pembuat produk. Kekritisan konsumen akan memberi pemahaman bagi perusahaan lokal mengenai kebutuhan pasar yang terspesialisasi, yang akan menjadi basis dari keberhasilan di tingkat nasional dan internasional. Untuk menjadi suatu daerah maju diperlukan inovasi dalam wujud produk unik, ciri unik, atau jasa unik. Adalah sangat sulit untuk menjadi unik jika melakukan hal itu sangat tergantung pada pemahaman kebutuhan konsumen asing, di mana pesaing asing jauh lebih menguasainya. Inovasi sering bersumber secara langsung dari kondisi-kondisi lokal, di mana perusahaan daerah mempunyai kemampuan unik untuk memahaminya.
Unsur lingkungan bisnis yang terakhir, di mana semua unsur-unsur lain juga harus ada bersama-sama, adalah klaster industri. Klaster adalah kawasan ekonomi yang inovatif dan produktif. Suatu klaster lebih dari sekedar industri tunggal yang membuat sebuah produk unggulan. Klaster yang sukses melibatkan berbagai industri terkait, pemasok dan institusi yang semua berlokasi di kawasan yang sama, yang semuanya berkaitan satu sama lain. Klaster industri memang kurang penting untuk daerah berkembang yang menggunakan upah rendah untuk menjual produk tiruan atau yang merakit komponen-komponen barang yang dibuat di daerah lain. Namun untuk membangun daya saing, daerah itu harus dengan unik berinovasi dan produktif. Klaster merupakan cara yang paling produktif untuk mengorganisir kegiatan ekonomi untuk mencapai sasaran itu.

III. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN ANDALAN
Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional yang merata, pada tahun 1997 pemerintah pusat menetapkan 111 kawasan sebagai kawasan andalan. Sebagian kawasan andalan yang terletak di Indonesia bagian timur dikembangkan secara khusus melalui program KAPET. Di samping kawasan andalan yang ditetapkan dengan PP-RTRWN 1997, pemerintah pusat juga menetapkan Sabang sebagai kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas. Dengan demikian terdapat dua kawasan strategis nasional: Batam dan Sabang.[3]
Beberapa masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kawasan andalan antara lain: (a) kurangnya kesigapan daerah-daerah dalam mempercepat pengembangan wilayah dan memanfaatkan peluang dan minat investasi di daerah berkaitan dengan era perdagangan bebas; (b) masih terbatasnya SDM yang profesional dan belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan modern dalam perekonomian daerah; (c) belum optimalnya keterlibatan swasta, lembaga non pemerintah, dan masyarakat lokal dalam pembangunan kawasan; (d) masih terbatasnya akses pelaku usaha skala kecil terhadap modal, input produksi, teknologi, pasar, serta peluang usaha dan kerjasama investasi; (e) keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi di daerah dalam mendukung pengembangan wilayah dan potensi unggulan daerah.
Program-program pengembangan kawasan andalan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat melalui departemen teknis antara lain adalah: (i) pengembangan kawasan pertanian (agropolitan), kawasan industri, kawasan pariwisata, kawasan kehutanan rakyat, kawasan peternakan, kawasan industri perikanan dan lain-lain di berbagai daerah; (ii) pengembangan KAPET sebagai salah satu upaya pengembangan KTI; (iii) pelaksanaan kerjasama ekonomi sub-regional dengan negara-negara tetangga, melalui BIMP-EAGA, IMT-GT, dan IMS-GT; (iv) dukungan pengembangan ekonomi lokal; (v) pengembangan kawasan transmigrasi; (vi) pengembangan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Sabang; (vii) mendukung pemerintah daerah untuk merencanakan pengembangan kawasan andalan di beberapa daerah.

IV. KESIMPULAN
Pengembangan kawasan andalan adalah upaya untuk mempercepat perkembangan ekonomi daerah. Pengembangan kawasan andalan dilakukan dengan pendekatan klaster yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan-perusahaan yang ada di daerah. Hal ini dilakukan dengan mewujudkan lingkungan ekonomi makro yang mendukung pertumbuhan bisnis dan membangun fondasi ekonomi mikro sehingga perusahaan-perusahaan daerah dapat tumbuh secara produktif dan memberikan nilai tambah kepada pekerja, investor dan pemerintah.
Pemerintah daerah mempunyai peran yang besar dalam menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan perusahaan-perusahaan yang ada di daerahnya. Pemerintah pusat melalui berbagai departemen teknis mempunyai peran dalam memfasilitasi pemerintah daerah dalam mengembangkan ekonomi daerah masing-masing, melalui berbagai program pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh. Direktorat PKKT Bappenas ikut serta terlibat dalam upaya besar ini dengan mendukung beberapa pemerintah daerah untuk merencanakan pengembangan kawasan andalan di daerah masing-masing.
Dalam jangka pendek pemerintah perlu memberikan insentif kepada kegiatan ekonomi agar perekonomian daerah dapat tumbuh lebih cepat. Adapun jenis insentif yang perlu diberikan kepada kawasan andalan meliputi a.l. kemudahan pemberian kredit, pemberian pembinaan kepada pelaku kegiatan ekonomi skala kecil, pemberian suku bunga yang rendah, dan pengikutsertakan pelaku kegiatan ekonomi skala kecil dalam kegiatan dan pemasaran yang dikoordinir oleh pemerintah.

–o0o–

DAFTAR PUSTAKA
Apul D. Maharadja (ed), Membangun Batam, 2003
Departemen Pekerjaan Umum, Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Perkotaan (KSNP-Kota), 2005
Fadel Muhammad, Industrialisasi & Wiraswasta, Masyarakat Industri ‘Belah Ketupat’, 1992
Kotler, Philip et.al; Pemasaran Keunggulan Bangsa (The Marketing of Nations), 1997
Masyhuri dan Syarif Hidayat, Menyingkap Akar Persoalan Ketimpangan Ekonomi di Daerah, 2001
Pradhan, Pushkar K; Manual for Urban Rural Linkage and Ruiral Development Analysis, 2003
Rondinelli, Dennis A.; Applied Methods of Regional Analysis, The Spatial Dimensions of Development Policy, 1985
Rydin, Yvonne, The British Planning System, an Introduction, 1993
Sarundayang, Pemerintahan Daerah di Berbagai Negara, 2001
Sri Rum Giyarsih; Perwilayahan Layanan Sosial Ekonomi untuk Pengembangan Wilsyah Perdesaan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jurnal Perencanaan Kota dan Daerah, Vol 1, No 1, Edisi 1 2006

[1] Daerah-daerah maju dapat melakukan tidak hanya meniru, tidak hanya memangkas biaya-biaya dan tidak hanya merestrukturisasi perekonomiannya, mereka juga harus terus mengembangkan kapasitas inovatif secara besar-besaran.
[2] Dalam mencapai keberhasilan, kompetisi internal adalah yang paling penting, di mana berbagai perusahaan mempunyai keinginan sangat kuat untuk menjadi yang terbaik.

[3] Pada saat ini pemerintah sedang mengidentifikasi beberapa strategic development regions (SDR) baru yang akan dikembangkan untuk mempercepat pertumbuhan wilayah di Indonesia. SDR adalah wilayah yang bernilai strategis secara ekonomi dan mampu berkembang cepat dengan sentuhan insentif dan kebijakan lain yang mendukung. SDR kemudian dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: